Posts Tagged ‘Panglima Laot’

Luka yang Belum Pulih

Pada tulisan pertama, saya menyinggung tentang alam yang telah pulih dari tsunami. Memang benar demikian. Perjalanan menyusuri sepenggal pantai barat Aceh membuktikannya.

Tiga tahun lalu, jalur Lhok Nga sampai Leupung, kira-kira 4 kilometer, adalah sebuah mimpi buruk. Perbukitan di sepanjang jalur ini terasa bagai bumi yang digores luka yang panjang dan dalam. Barisan nyiur kelapa tercerabut dari akar. Pepohonan jauh di lereng bukit meranggas habis seperti tertampar listrik ribuan watt. Potongan kayu, seng, genteng, mayat, berserakan di pinggir jalan setelah diempaskan air laut.

Kemarin, setelah tiga tahun berlalu, bekas luka itu tak lagi ada. Padi, jagung, pepohonan seperti pala, cemara udang, dan cengkeh kembali menghijau. Rumput ilalang tumbuh meninju langit. Seolah tak pernah terjadi sebuah hari yang mengerikan dan membawa pergi 170 ribu jiwa warga Aceh.

Sementara alam telah pulih dengan mengesankan, lain halnya manusia. Memang, luka telah sembuh dalam beberapa derajat. Panglima Laot (pemimpin adat nelayan) Lampuuk Tengku Cut Nyak Daud, 75 tahun, menegaskan bahwa semangat hidup masyarakat telah tumbuh. “Terutama setelah rumah bantuan sudah tersedia,” katanya. “Rumah membuat kami lebih pasti memandang masa depan.”

Read the rest of this entry →