Luka yang Belum Pulih
Pada tulisan pertama, saya menyinggung tentang alam yang telah pulih dari tsunami. Memang benar demikian. Perjalanan menyusuri sepenggal pantai barat Aceh membuktikannya.
Tiga tahun lalu, jalur Lhok Nga sampai Leupung, kira-kira 4 kilometer, adalah sebuah mimpi buruk. Perbukitan di sepanjang jalur ini terasa bagai bumi yang digores luka yang panjang dan dalam. Barisan nyiur kelapa tercerabut dari akar. Pepohonan jauh di lereng bukit meranggas habis seperti tertampar listrik ribuan watt. Potongan kayu, seng, genteng, mayat, berserakan di pinggir jalan setelah diempaskan air laut.
Kemarin, setelah tiga tahun berlalu, bekas luka itu tak lagi ada. Padi, jagung, pepohonan seperti pala, cemara udang, dan cengkeh kembali menghijau. Rumput ilalang tumbuh meninju langit. Seolah tak pernah terjadi sebuah hari yang mengerikan dan membawa pergi 170 ribu jiwa warga Aceh.
Sementara alam telah pulih dengan mengesankan, lain halnya manusia. Memang, luka telah sembuh dalam beberapa derajat. Panglima Laot (pemimpin adat nelayan) Lampuuk Tengku Cut Nyak Daud, 75 tahun, menegaskan bahwa semangat hidup masyarakat telah tumbuh. “Terutama setelah rumah bantuan sudah tersedia,” katanya. “Rumah membuat kami lebih pasti memandang masa depan.”





Wartawan Tempo sejak 1998. Menjelajah berbagai desk, antara lain ekonomi, nasional, kesehatan, sains, gaya hidup, dan investigasi. Sejak Januari 2009 ditugasi menjadi Direktur Eksekutif Institut Tempo, sebuah lembaga yang dicita-citakan menjadi pusat pengembangan jurnalistik di Indonesia. Lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1996. Setelah lulus kuliah, bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi (1996) sebagai staf riset dan kemudian menjadi reporter di majalah Panji Masyarakat (1997).