Bab II – Menyatukan Negeri Yang Retak
Selain menghancurkan pantai barat Aceh, tsunami juga membawa berkah nota kesepakatan RI-GAM yang diteken di Helsinki, 15 Agustus 2005 dan terbukanya pintu isolasi Aceh, merupakan contoh hikmah tsunami. Gempuran ombak samudera raya merupakan generator raksasa yang sulit diingkari, menggiring beberapa perubahan penting di Tanah Seulawah.
Seperti biasa, para petinggi di Jakarta ramai bertarung pendapat tentang kesepakatan Helsinki. Sebagian bersyukur, sebagian menilai langkah damai ini kebablasan, seperti sopir bis kota yang sembrono mengejar setoran. Megawati Soekarnoputri yang pernah bersumpah tak akan membiarkan darah tumpah di bumi Aceh, bahkan membentuk barisan menolak kesepakatan damai.
Tentu saja, kapasitas saya tak cukup untuk menilai kualitas Nota Helsinki. Subyek ini jauh dari kompetensi saya, setidaknya hingga saat ini ketika pengetahuan saya tentang seluk-beluk konflik di Aceh masih dangkal. Saya hanya hendak bertanya, sudahkah mereka yang bertikai mendengar suara rakyat Aceh yang menderita begitu lama? Sudahkah mereka menatap wajah anak-anak Aceh yang ketakutan? Apakah mereka paham pertikaian berlarut-larut itu menghambat pemulihan Aceh?





Wartawan Tempo sejak 1998. Menjelajah berbagai desk, antara lain ekonomi, nasional, kesehatan, sains, gaya hidup, dan investigasi. Sejak Januari 2009 ditugasi menjadi Direktur Eksekutif Institut Tempo, sebuah lembaga yang dicita-citakan menjadi pusat pengembangan jurnalistik di Indonesia. Lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1996. Setelah lulus kuliah, bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi (1996) sebagai staf riset dan kemudian menjadi reporter di majalah Panji Masyarakat (1997).