Posts Tagged ‘GAM’

Mereka yang Hampir Terlupakan

Kemarin saya berjumpa dengan Mustafa di Desa Lam Klat, Tungkob, Aceh Besar. Bersama puluhan ribu korban konflik, dia termasuk dalam barisan yang hampir terlupakan di Aceh. Kisah mereka tersembunyi di antara gegap-gempita pembangunan jembatan, jalan raya, dan rumah untuk korban tsunami.

Rumah Mustafa tak sampai 20 meter persegi. Berlantai semen, berdinding papan. “Mari masuk, Kak. Cuma begini adanya,” kata lelaki 28 tahun ini.

Kisah pedagang kaki lima ini cukup dramatis. Awal 2002 dia ditangkap oleh tentara. “Saya ditembak waktu jalan kaki,” katanya, “Entah apa salah saya.” Tiga bulan dia dipenjara, tanpa proses pemeriksaan apa pun. Lalu, “Saya dibebaskan. Cuma salah tangkap, kata tentara. Saya dikira anggota GAM (Gerakan Aceh Merdeka),” katanya.

Persoalannya, peluru telanjur bersarang di tulang pinggul Mustafa. Tak ada biaya untuk berobat ke rumah sakit. Penghasilannya pun hanya Rp 20-30 ribu per hari. “Saya cuma bisa beli obat pereda nyeri,” katanya. Sering kali dia tak bisa bekerja lantaran sekujur kakinya kebas dan susah digerakkan.
Read the rest of this entry →

Dulu Mereka Cuma Tahu Perang

Bagi orang Aceh, kata perang masih membikin merinding. Ia membawa kembali serpihan memori tentang sebuah masa kelam. Masa yang berdarah, 32 tahun perang antara Gerakan Aceh Merdeka dan Tentara Nasional Indonesia. “Ouw, Mak, ngeri kali waktu itu,” kata Cut Nyak Daud, sesepuh warga Lampuuk, Aceh Besar, yang kembali saya jumpai dalam kunjungan ke Aceh kali ini.

Pada masa itu, sedikitnya enam kali rumah Cut Nyak Daud dikepung panser tentara. “Dua belas kali kepala saya ditodong pistol,” katanya. Lalu datanglah tsunami. Musibah dahsyat yang memaksa semua pihak yang bertikai merundukkan kepala lebih dalam. Perdamaian dibahas dengan kepala lebih dingin hingga terciptalah Perjanjian Helsinki, Agustus 2005. Damai telah nyata.

“Sungguh, ini berkah tsunami yang tak dapat diganti dengan uang berapa pun,” kata Cut Nyak Daud. Dua tahun terakhir tak lagi terdengar senapan menyalak, tendangan sepatu lars, juga bogem mentah di pos pemeriksaan. “Anak-cucu saya baru tahu sekarang bahwa ada hidup yang ternyata bisa dijalani dengan damai,” ujar Cut Nyak Daud. “Dulu mereka cuma tahu perang,” dia menambahkan.
Read the rest of this entry →