Posts Tagged ‘Banda Aceh’

Berapa Skor BRR Menurut Anda?

Komentar Dudi tentang BRR membuat saya tertarik untuk bertanya kepada teman-teman, berapa sih skor yang teman-teman anggap pantas untuk BRR? Menurut Kuntoro Mangkusubroto, BRR dianggap berhasil melaksanakan tugas rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh – Nias dengan tingkat keberhasilan 90 persen.

Tahun lalu, dalam sebuah perjalanan di Banda Aceh dan Aceh Besar, saya iseng-iseng bertanya soal skor BRR ini kepada orang-orang yang saya jumpai. Ini bukan survei akademik, tapi sekadar survei untuk memenuhi rasa ingin tahu saya. Sumbernya pun hanya 20-an orang. Jadi, sama sekali tidak representatif dan tak bisa diklaim mewakili pendapat masayarakat Aceh pada umumnya.

Nah, dari survei iseng tersebut saya mendapati jawaban yang berpola sebagai berikut:

Read the rest of this entry →

Terkenang Blang Padang

BLANG PADANG. Tiga tahun lalu saya menjejakkan kaki di lapangan di jantung Kota Banda Aceh ini. Hampir tengah malam kala itu. Aroma busuk pekat menggantung di udara. Masker pelindung pun tak berdaya menahan bau yang menyerbu saraf penciuman. Esok paginya, saat terang tanah, barulah saya menyaksikan sumber bau, ribuan mayat yang berserakan di setiap jengkal lapangan. Ribuan mayat yang binasa karena amuk tsunami.

Tiga hari lalu, saya kembali menyambangi Aceh. Kali ini saya menginap di Wisma Nusa Cendana, Pungee, hanya sepelemparan batu dari Blang Padang. Serangkaian video kenangan berputar kembali di benak saya, mulai keruwetan evakuasi jenazah, orang-orang bertangisan mencari kerabat, sampai sukarelawan yang pucat pasi menyaksikan mayat di setiap jengkal jalanan. Setiap detail kenangan berputar dengan cepat, maju-mundur.

Read the rest of this entry →

Morality Police Back With a Vengeance in Aceh

It was a breezy, sunny day. The Neusu soccer field in capital Banda Aceh was abuzz with positive energy. A dozen or so small boys were playing soccer, while several young men jogged around the field — A happy scene amid the sadness left by the deadly tsunami that killed more than 100,000 people in December 2004.

The idyllic Sunday morning, however, came to an abrupt end when members of Wilayatul Hisbah or morality police arrived at the scene.

“All of you, get into the car!” they shouted at the boys and adults on the soccer field.

Ahmad Sobirin, a social worker with the Jesuit Refugee Service (JRS) who was jogging around the field, was also asked to come to the office of the morality police. “”Your knees are not properly covered,”" one officer told Ahmad.

At the office, Ahmad and the young boys received a lengthy lecture on Islamic law or sharia which requires Muslims to cover certain parts of their body in public.

Read the rest of this entry →

Rindu di Bukit Krueng Raya

Safari layar tancap di Aceh. Bergerak dari barak ke barak, kami bertemu kenangan dan semangat korban tsunami.

MULIADI namanya, 14 tahun. Remaja tanggung ini belum pernah sekali pun menjejakkan kaki di gedung bioskop. “Hana peng” kata dia, maksudnya “tak punya uang” dalam bahasa Aceh. Kalau pun sekarang ada uang, Muliadi menyambung, mana ada lagi gedung bioskop tegak berdiri di Banda Aceh. “Sudah habis kena tsunami.”

Berseri-seri wajah Muliadi. Senyumnya lebar mengembang. “Kakak mau putar film di sini, persis seperti bioskop? Apa filmnya? Kakak bawa televisi sebesar apa? Nanti tivi-nya ditaruh mana?” Beruntun pertanyaan Muliadi. Dia bahkan tidak tahu bahwa pemutaran film di bioskop tak ada urusan apa dengan pesawat televisi ukuran berapa pun.

Read the rest of this entry →