Terkenang Blang Padang
BLANG PADANG. Tiga tahun lalu saya menjejakkan kaki di lapangan di jantung Kota Banda Aceh ini. Hampir tengah malam kala itu. Aroma busuk pekat menggantung di udara. Masker pelindung pun tak berdaya menahan bau yang menyerbu saraf penciuman. Esok paginya, saat terang tanah, barulah saya menyaksikan sumber bau, ribuan mayat yang berserakan di setiap jengkal lapangan. Ribuan mayat yang binasa karena amuk tsunami.
Tiga hari lalu, saya kembali menyambangi Aceh. Kali ini saya menginap di Wisma Nusa Cendana, Pungee, hanya sepelemparan batu dari Blang Padang. Serangkaian video kenangan berputar kembali di benak saya, mulai keruwetan evakuasi jenazah, orang-orang bertangisan mencari kerabat, sampai sukarelawan yang pucat pasi menyaksikan mayat di setiap jengkal jalanan. Setiap detail kenangan berputar dengan cepat, maju-mundur.





Wartawan Tempo sejak 1998. Menjelajah berbagai desk, antara lain ekonomi, nasional, kesehatan, sains, gaya hidup, dan investigasi. Sejak Januari 2009 ditugasi menjadi Direktur Eksekutif Institut Tempo, sebuah lembaga yang dicita-citakan menjadi pusat pengembangan jurnalistik di Indonesia. Lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1996. Setelah lulus kuliah, bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi (1996) sebagai staf riset dan kemudian menjadi reporter di majalah Panji Masyarakat (1997).