Setelah Lamno, mari kita berpindah ke Calang, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya. Apa boleh buat, saya tak sempat mengunjungi kota ini karena tak sanggup melanjutkan perjalanan 8 jam perjalanan Lamno-Calang dengan kapal. Mabuk laut cukuplah sudah. Oleh karena itu, laporan tentang Calang berikut ini saya sarikan dari penuturan dan tulisan Abdi Purmono, wartawan Tempo yang juga anggota tim relawan
Bagi Abdi Purmono, yang tiba bersama tim pertama pada 10 Januari 2005, kondisi Calang jauh lebih buruk dari yang bisa dibayangkan. Kota ini nyaris tak berbekas. Bagaikan kota hantu. Begitu hancurnya Calang sehingga ibukota Aceh Jaya dipindahkan ke Keude Krueng Sabe, enam kilometer di selatan Calang. Sebuah titik, dengan kode pos 23654, nyaris terhapus dari wajah negeri ini.
Sebelum tsunami, catatan resmi menunjukkan kota ini dihuni 11.500 warga. Kini, setelah pagi nahas 26 Desember itu, penduduk Calang hanya tersisa 30 persen atau 3.500 jiwa. Menurut beberapa warga, gelombang menerjang maju dengan ketinggian 15 meter, menggempur Calang dari tiga penjuru: Teluk Rigah, Teluk Calang, dan Teluk Lhok Leubu. Semua bangunan bertekuk lutut. Satu-satunya yang tegak berdiri, meski compang-camping, adalah rumah milik seorang pengusaha, Tauke Nyek Beng. Rumah putih bertingkat di seberang posko marinir itu pun segera berubah fungsi menjadi gudang penyimpanan logistik.
Unduh Bab XI – Kota Berkode Pos 23654
Ini sepetik hikayat tentang anak Aceh jauh dirantau. Begitu rindu dia akan kampung. Rindu pada nangroe tempat pantai biru teduh, awan bergulung bagai lukisan, dan matahari senja berwarna jingga. Ada camar, ada layar.
Beuneung raja di dalam paya,
Limpah cahaya langet bumoe,
Ku’eh han teunget, kubleut han jaga
Pajan masa kuteumee woe
Ada’na sayeueb kuteureubang
Nyeum bereujang troih u nanggroe
Pelangi di paya,
Langit dan bumi berlimpah cahaya,
Kuterbaring tan pater tidur,
Ku duduk tan pater jaga,
Bisakah tiba saatnya ku kembali?
Andai ku miliki sayap, aku kan terbang
Agar segera kembali kenegeri
(Hikayat Ranto)
Unduh Bab XII – Rasanya Seperti Kiamat Donya
Sambil mengepalkan tangannya keudara, Teuku Umar berteriak lantang, “Pang laot! Kita serbu kape-kape itu. ”Dengan teriakan itulah, Eros Djarot, sutradara film Tjut Nyak Dhien, memperkenalkan tokoh Pang laot kepada publik film Indonesia.
Terus terang, semula saya menyangka Panglaot itu sekadar nama seorang tokoh, pembantu setia Teuku Umar yang kemudian —ketika Teuku tertangkap— meneruskan perjuangan bersama Tjut Nyak Dhien. Sudah lama saya melupakan tokoh ini sehingga ketika seorang nelayan Aceh menyebut nama tersebut, dua pekan setelah tsunami, ingatan saya tidak “berdering” lagi. Bahkan saya sempat menyangka, Panglaot itu semacam jendral marinir.
Ketika itu saya dan Tim Relawan berada di tengah hiruk-pikuk evakuasi dan distribusi bantuan. Beberapa orang menyarankan agar kami menjumpai Panglima Laot. “Tolong, temuilah Panglima Laot. Bantu pemimpin kami, jendral kami, menolong nelayan Aceh,” kata Usman yang kami temui ketika sedang termangu di Pelabuhan Lampulo. Selain kehilangan rumah dan seluruh hartanya, nelayan Ulee Lheu ini tak bisa lagi menjumpai anak, istri, dan kedua orang tuanya.
Unduh Bab XIII – Abu Laot, Panglima Kami
Tak bisa diingkari, barisan wartawan turut berjibaku membantu penanganan korban tsunami. Para juru warta dari penjuru jagat itu ikut berjasa menggerakkan solidaritas internasional melalui pemberitaan yang cepat seketika, bertubi-tubi, dan mendalam.
Dibandingkan dengan pemberitaan tsunami di negara-negara lain, kabar dari Indonesia relatif terlambat. Pada jam-jam pertama setelah tsunami, jaringan televisi internasional sudah menayangkan situasi di Thailand dan Srilanka. Pada hari kedua setelah tsunami, ketika fotografer India Arko Datta merekam gambar perempuan India meratapi jenazah korban —foto yang kemudian memenangkan penghargaan World Press Photo 2004— masyarakat Indonesia, apalagi dunia, belum tahu persis apa yang terjadi di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Pulau Nias. Segalanya serba gelap. Magnitude kerusakan akibat bencana dan masifnya jumlah korban masih jauh dari bayangan. Bahkan, pemerintah pada hari-hari itu menyebutkan jumlah korban “hanya” sekitar 1.000 dan kemudian beranjak menjadi 3000-an jiwa.
Menjangkau lokasi bencana itu pun bukan persoalan gampang. Para jurnalis harus berebut kursi pesawat menuju Banda Aceh. “Ini lokasi yang paling susah dijangkau sepanjang karir jurnalistik saya,” kata Eric Grigorian yang karyanya tentang pemakaman massal berjudul “By His Father Grave”, dengan setting gempa di Proponsi Gavince, Iran, memenangkan World Press Photo 2002.
Unduh Bab XIV – Cleaning Service Provided by CNN
Ketika Aceh mulai menjauh dari pantuan radar wartawan, sejumlah persoalan justru mulai bermunculan. Berkali-kali saya dihubungi nelayan, aktivis, dan relawan yang masih setia di lapangan untuk menulis pelbagai hal: pembangunan barak pengungsi yang kacau, bantuan boat yang tak sesuai kebutuhan nelayan, jatah hidup yang menguap ditengah jalan, dan macam-macam lagi.
Apa boleh buat, meskipun penting bagi nasib korban tsunami, drama-drama seperti itu dianggap tak cukup menjual untuk ditampilkan pada halaman utama surat kabar. Sebulan setelah tsunami, berita-berita tentang Aceh harus terima nasib, nyungsep, tersembunyi di halaman dalam.
Sebagai orang yang pernah melibatkan diri dalam penanganan korban, saya gerah melihat situasi ini. Tapi gerah saja tidak cukup. Harus ada sesuatu yang dilakukan. Mesti ada sesuatu yang bisa mencuri perhatian media. Pemulihan Aceh harus menempatkan media sebagai mitra strategis. Jika sang mitra mulai bosan, kita harus melakukan sesuatu yang atraktif. Ah, mengapa tak mencoba pameran foto? Kebetulan, hari-hari itu menjelang peringatan 100 hari tsunami, barangkali akan banyak momen berharga yang bisa direkam kamera.
Unduh Bab XV – Perjuangan Berlanjut
Tiga bulan sesudah tsunami, gempa di Sumatera kembali menjadi magnet perhatian dunia. Kali ini pusatnya berada di Pulau Nias, arah tenggara Pulau Simeuleu. Meskipun jauh dari Aceh, getaran kehebohannya tetap terasa hingga ke Tanah Seulawah.
Sengaja saya mengisahkan “interupsi” Nias ini karena ada pelajaran pahit di dalamnya: negeri-kaya-musibah ini tak pernah belajar. Bencana siap meledak kapan saja di mana saja di setiap jengkal tanah dari Sabang sampai Merauke, kita tak punya persiapan apa-apa untuk menghadapinya. Jumlah korban berlipat bukan karena hebatnya gempa, tapi lantaran lamban dan semrawutnya sistem penanggulangan, pertolongan, dan evakuasi korban. Kepanikan dan sulitnya akses menuju lokasi hanya membuat keadaan bertambah parah.
Minggu malam, tanggal 28 Maret 2005, pukul 23.15, saya berada di Banda Aceh sedang menyiapkan penerbitan media untuk Panglima Laot sekaligus menyusun rencana Pameran Foto “100 Days After, Struggle Continues – Perjuangan Berlanjut”. Bersama beberapa kawan, saya sedang rapat di kantor Panglima Laot, Propinsi NAD, Jalan Lamnyong. Mendadak, bumi bergetar hebat. Aftershock, pikir saya. Gempa susulan yang sudah ratusan kali muncul setelah tsunami. Bedanya, kali ini getarannya terasa sangat kuat dan seperti tak kunjung berakhir.
Unduh Bab XVI – Antara Nias dan Sri Paus