Archive for the ‘Reportase’Category

Tersindir Abang Becak

Berawal dari dana patungan, Forum Bangun Aceh mengembangkan dana bergulir dengan aset Rp 4 miliar. Sengaja menghindari lembaga donor besar.

Azwar Hasan mengenang sepenggal hari yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Sore itu di Lampulo, Banda Aceh, seorang tukang becak mendatanginya sambil menyerahkan setumpuk uang kertas yang kusut dan lembap oleh keringat. “Bang Azwar, ini Rp 600 ribu, tabungan saya. Tolong berikan kepada korban tsunami yang membutuhkan bantuan,” kata Syarwan, si abang becak.

Kontan Azwar Hasan tertegun. Hati lelaki 37 tahun ini seperti kena setrum. Orang kecil seperti Syarwan–yang keluarga dan hartanya hilang ditelan gelombang tsunami–sanggup memberikan seluruh tabungannya demi menolong sesama. “Saya jadi merasa tersindir hebat. Kenapa, dengan kapasitas yang lebih besar, saya tak bisa berbuat seperti dia?” kata Azwar, yang ketika itu konsultan bergaji ribuan dolar di lembaga donor milik Amerika Serikat, USAID.

Tiga bulan sebelum sore itu, Azwar membelikan sebuah becak bermotor untuk Syarwan. Harga becak itu Rp 12 juta. “Hasil patungan. Ada kawan yang menyumbang Rp 500 ribu, ada yang bantu Rp 100 ribu, ada juga teman dari Eropa yang membantu 100 euro.” Sama sekali tak ada ikatan dalam becak bantuan ini. Syarwan tak perlu membayar angsuran apa pun. Tapi, tanpa diduga, Syarwan memberikan uang yang dia kumpulkan susah payah. “Padahal dia sendiri masih amat membutuhkan uang untuk kembali bangkit setelah tsunami,” kata Azwar, kelahiran Banda Aceh.
Read the rest of this entry →

Balada Seorang Pejabat

Boleh curhat dikit, ya, teman-teman. Bukan soal Aceh, sih, jadi saya minta maaf kalau menyimpang dari tema Aceh Journey.

Begini, saya lagi kelabakan, nih, cari bahan sana-sini tentang pejabat tinggi yang diduga terlibat dalam pembunuhan Nasrudin, Direktur PT Rajawali Banjaran. Pusying… ! Sejauh ini, kepingan cerita yang didapat dari lapangan mirip dengan kisah-kisah film thriller ala Hollywood. Si pejabat konon punya affair dengan perempuan yang selalu menemaninya bermain golf. Lalu, ada direktur  BUMN yang mengetahui affair ini.

Direktur ini bukan orang yang bersih juga. Dia koruptor dan sedang dibidik untuk diselidiki. Rupanya, dia tahu bakal menjadi sasaran penyelidikan, maka dia pasang jurus memeras sang pejabat. “Kalau gue tetep diusut, maka informasi affair ini akan segera menyebar,” begitu kira-kira ancaman si direktur dengan nada bicara menyeramkan.

Nah, sebulan yang lalu, si direktur diketemukan mati ditembak orang tak dikenal. Kabar yang beredar, si penembak adalah utusan sang pejabat yang merasa terganggu dengan aksi peras si direktur. Tuh, layak kan dibikin film Hollywood. Saya bayangkan, si pejabat diperankan oleh Al Pacino, terus direktur BUMN diperankan oleh Sean Penn, pacar si pejabat dimainkan Angelina Jolie. Wah, kek mana tuh…?

oke, deh, saya lanjutkan mengejar deadline. terimakasih sudah membaca curhat saya.  salam.

Kopi Aceh Abi Wahid

Kopi Aceh. Hm…., membayangkannya saja sudah menimbulkan sensasi yang menyenangkan. Menyeruput secangkir kopi panas yang harum, srup.., lalu disusul dengan mencecap roti srikaya. Kadang ada kue timpan menemani. Lalu, angin sepoi sedikit menghibur kulit yang gosong seharian terpanggang matahari. Top, dah.

Ahad lalu, saya tak sekadar menyeruput secangkir kopi. Bersama Dwi Rahardiani, teman di GEF, saya berkunjung ke penggilingan kopi milik Abi Wahid, di Krueng Raya.  Luar biasa, saban hari Abi Wahid dan selusin karyawannya menggiling 200-250 kg biji kopi. Dalam sepekan, dikurangi libur Jumat dan Minggu, Abi Wahid menggiling 1 ton biji kopi. Luar biasa.

Read the rest of this entry →

Terkenang Blang Padang

BLANG PADANG. Tiga tahun lalu saya menjejakkan kaki di lapangan di jantung Kota Banda Aceh ini. Hampir tengah malam kala itu. Aroma busuk pekat menggantung di udara. Masker pelindung pun tak berdaya menahan bau yang menyerbu saraf penciuman. Esok paginya, saat terang tanah, barulah saya menyaksikan sumber bau, ribuan mayat yang berserakan di setiap jengkal lapangan. Ribuan mayat yang binasa karena amuk tsunami.

Tiga hari lalu, saya kembali menyambangi Aceh. Kali ini saya menginap di Wisma Nusa Cendana, Pungee, hanya sepelemparan batu dari Blang Padang. Serangkaian video kenangan berputar kembali di benak saya, mulai keruwetan evakuasi jenazah, orang-orang bertangisan mencari kerabat, sampai sukarelawan yang pucat pasi menyaksikan mayat di setiap jengkal jalanan. Setiap detail kenangan berputar dengan cepat, maju-mundur.

Read the rest of this entry →