Setelah Lampu Sorot Surut
Masa kerja BRR berakhir. Donor asing mulai meninggalkan Aceh. Dua bupati menolak serah-terima aset.
PASAR Atjeh, di sebelah Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, merupakan salah satu titik panas dalam rekaman amuk tsunami, 26 Desember 2004. Mayat bergelimpangan di sela kios yang hancur. Gapura pintu Aceh, landmark di areal itu, ditelan bukit sampah yang diantarkan gelombang.
Empat tahun berlalu, kini Pasar Atjeh telah menjadi pasar modern. Renovasinya didanai Japan International Cooperation System Rp 33 miliar. Dengan kaca-kaca bening, gedung seluas lebih dari setengah hektare, berdaya tampung 300 pedagang, itulah Pasar Atjeh baru, yang diresmikan pekan lalu. “Pasti ureueng (orang-orang) jadi lebih senang nongkrong di pasai (pasar) daripada di kedai pinggir jalan,” komentar seorang pemuda.
Banda Aceh memang bak gadis yang baru bersolek. Empat tahun proses rekonstruksi, yang melibatkan ratusan lembaga dari seluruh dunia, membuahkan gedung dan fasilitas megah di seantero Aceh. Jembatan, rumah, sekolah, puskesmas, kantor camat, masjid, bandara, rumah sakit, jalanan, semua tampak kinclong–setidaknya penampilan luarnya.
Read the rest of this entry →





Wartawan Tempo sejak 1998. Menjelajah berbagai desk, antara lain ekonomi, nasional, kesehatan, sains, gaya hidup, dan investigasi. Sejak Januari 2009 ditugasi menjadi Direktur Eksekutif Institut Tempo, sebuah lembaga yang dicita-citakan menjadi pusat pengembangan jurnalistik di Indonesia. Lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1996. Setelah lulus kuliah, bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi (1996) sebagai staf riset dan kemudian menjadi reporter di majalah Panji Masyarakat (1997).