Archive for the ‘Artikel’Category

Setelah Lampu Sorot Surut

Masa kerja BRR berakhir. Donor asing mulai meninggalkan Aceh. Dua bupati menolak serah-terima aset.

PASAR Atjeh, di sebelah Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, merupakan salah satu titik panas dalam rekaman amuk tsunami, 26 Desember 2004. Mayat bergelimpangan di sela kios yang hancur. Gapura pintu Aceh, landmark di areal itu, ditelan bukit sampah yang diantarkan gelombang.

Empat tahun berlalu, kini Pasar Atjeh telah menjadi pasar modern. Renovasinya didanai Japan International Cooperation System Rp 33 miliar. Dengan kaca-kaca bening, gedung seluas lebih dari setengah hektare, berdaya tampung 300 pedagang, itulah Pasar Atjeh baru, yang diresmikan pekan lalu. “Pasti ureueng (orang-orang) jadi lebih senang nongkrong di pasai (pasar) daripada di kedai pinggir jalan,” komentar seorang pemuda.
Banda Aceh memang bak gadis yang baru bersolek. Empat tahun proses rekonstruksi, yang melibatkan ratusan lembaga dari seluruh dunia, membuahkan gedung dan fasilitas megah di seantero Aceh. Jembatan, rumah, sekolah, puskesmas, kantor camat, masjid, bandara, rumah sakit, jalanan, semua tampak kinclong–setidaknya penampilan luarnya.
Read the rest of this entry →

Tags: ,

Mereka yang Hampir Terlupakan

Kemarin saya berjumpa dengan Mustafa di Desa Lam Klat, Tungkob, Aceh Besar. Bersama puluhan ribu korban konflik, dia termasuk dalam barisan yang hampir terlupakan di Aceh. Kisah mereka tersembunyi di antara gegap-gempita pembangunan jembatan, jalan raya, dan rumah untuk korban tsunami.

Rumah Mustafa tak sampai 20 meter persegi. Berlantai semen, berdinding papan. “Mari masuk, Kak. Cuma begini adanya,” kata lelaki 28 tahun ini.

Kisah pedagang kaki lima ini cukup dramatis. Awal 2002 dia ditangkap oleh tentara. “Saya ditembak waktu jalan kaki,” katanya, “Entah apa salah saya.” Tiga bulan dia dipenjara, tanpa proses pemeriksaan apa pun. Lalu, “Saya dibebaskan. Cuma salah tangkap, kata tentara. Saya dikira anggota GAM (Gerakan Aceh Merdeka),” katanya.

Persoalannya, peluru telanjur bersarang di tulang pinggul Mustafa. Tak ada biaya untuk berobat ke rumah sakit. Penghasilannya pun hanya Rp 20-30 ribu per hari. “Saya cuma bisa beli obat pereda nyeri,” katanya. Sering kali dia tak bisa bekerja lantaran sekujur kakinya kebas dan susah digerakkan.
Read the rest of this entry →

Dulu Mereka Cuma Tahu Perang

Bagi orang Aceh, kata perang masih membikin merinding. Ia membawa kembali serpihan memori tentang sebuah masa kelam. Masa yang berdarah, 32 tahun perang antara Gerakan Aceh Merdeka dan Tentara Nasional Indonesia. “Ouw, Mak, ngeri kali waktu itu,” kata Cut Nyak Daud, sesepuh warga Lampuuk, Aceh Besar, yang kembali saya jumpai dalam kunjungan ke Aceh kali ini.

Pada masa itu, sedikitnya enam kali rumah Cut Nyak Daud dikepung panser tentara. “Dua belas kali kepala saya ditodong pistol,” katanya. Lalu datanglah tsunami. Musibah dahsyat yang memaksa semua pihak yang bertikai merundukkan kepala lebih dalam. Perdamaian dibahas dengan kepala lebih dingin hingga terciptalah Perjanjian Helsinki, Agustus 2005. Damai telah nyata.

“Sungguh, ini berkah tsunami yang tak dapat diganti dengan uang berapa pun,” kata Cut Nyak Daud. Dua tahun terakhir tak lagi terdengar senapan menyalak, tendangan sepatu lars, juga bogem mentah di pos pemeriksaan. “Anak-cucu saya baru tahu sekarang bahwa ada hidup yang ternyata bisa dijalani dengan damai,” ujar Cut Nyak Daud. “Dulu mereka cuma tahu perang,” dia menambahkan.
Read the rest of this entry →

Luka yang Belum Pulih

Pada tulisan pertama, saya menyinggung tentang alam yang telah pulih dari tsunami. Memang benar demikian. Perjalanan menyusuri sepenggal pantai barat Aceh membuktikannya.

Tiga tahun lalu, jalur Lhok Nga sampai Leupung, kira-kira 4 kilometer, adalah sebuah mimpi buruk. Perbukitan di sepanjang jalur ini terasa bagai bumi yang digores luka yang panjang dan dalam. Barisan nyiur kelapa tercerabut dari akar. Pepohonan jauh di lereng bukit meranggas habis seperti tertampar listrik ribuan watt. Potongan kayu, seng, genteng, mayat, berserakan di pinggir jalan setelah diempaskan air laut.

Kemarin, setelah tiga tahun berlalu, bekas luka itu tak lagi ada. Padi, jagung, pepohonan seperti pala, cemara udang, dan cengkeh kembali menghijau. Rumput ilalang tumbuh meninju langit. Seolah tak pernah terjadi sebuah hari yang mengerikan dan membawa pergi 170 ribu jiwa warga Aceh.

Sementara alam telah pulih dengan mengesankan, lain halnya manusia. Memang, luka telah sembuh dalam beberapa derajat. Panglima Laot (pemimpin adat nelayan) Lampuuk Tengku Cut Nyak Daud, 75 tahun, menegaskan bahwa semangat hidup masyarakat telah tumbuh. “Terutama setelah rumah bantuan sudah tersedia,” katanya. “Rumah membuat kami lebih pasti memandang masa depan.”

Read the rest of this entry →