Author Archive

Mardiyah Chamim

Wartawan Tempo sejak 1998. Menjelajah berbagai desk, antara lain ekonomi, nasional, kesehatan, sains, gaya hidup, dan investigasi. Sejak Januari 2009 ditugasi menjadi Direktur Eksekutif Institut Tempo, sebuah lembaga yang dicita-citakan menjadi pusat pengembangan jurnalistik di Indonesia. Lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1996. Setelah lulus kuliah, bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi (1996) sebagai staf riset dan kemudian menjadi reporter di majalah Panji Masyarakat (1997).

Sebuah Jendela Bernama Acehmediacenter

Saya tak menyangka, petaka itu begitu hebat. Ketika pertama kali mendengar beritanya, saya kira ini sama seperti bencana yang lain: gempa bumi, banjir, tanah longsor. Terus terang, kabar tentang tsunami hari itu tak membuat telinga saya “berdering”. Namun keesokan paginya, ketika koran dan televisi gencar menggambarkan kedahsyatannya, saya melongo seperti tak percaya. Telinga saya bukan saja berdering, hati saya juga ikut menjerit.

Pagi itu, sehari setelah tsunami, beberapa teman berdiskusi melalui Yahoo Conference dari kantornya masing-masing. Dari diskusi itulah kemudian tercetus ide perlunya web khusus yang menampilkan informasi terkait bencana tsunami di Aceh. Berikut ini petikan diskusinya:…

Penulis:

Sugeng Wibowo
lebih terkenal sebagai Susee. Lahir di Indramayu, 21 April 1978. Sejak kuliah di Fakulas Elektro Universitas Brawijaya Malang, Susee sudah terbiasa mengelola website, mulai dari situs resmi Universitas Brawijaya hingga situs komunitas dan pemerintahan. Susee menetap di Jakarta dan menghabiskan waktu sebagai perancang situs. Dia bisa dihubungi melalui e-mail di sugeng@airputih.or.id atau blog pribadinya di http://susee.myindo.net.

Unduh Sebuah Jendela Bernama Acehmediacenter

Peran dan Kualifikasi Tenaga TI di Daerah Bencana

Ombak tsunami bukan hanya melumat gedung-gedung, tapi juga membungkam seluruh kabar tentang Aceh. Sarana telekomunikasi dan listrik hancur. Karyawan Telkom dan PLN ikut menjadi korban. Arus informasi terputus. Kita dan warga dunia terlambat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di tanah bencana tersebut.

Kalangan media memang berhasil mencapai ground zero dalam waktu singkat. Namun tanpa sarana telekomunikasi, mereka tak bisa berbuat banyak. Pengiriman data terbentur tembok. Data teks, gambar, video harus dikirim (secara fisik) ke Medan, sebelum dapat disebarkan ke seluruh dunia.

Pada umumnya, kalangan media telah berbasis teknologi digital, sehingga transmisi data elektronik merupakan kebutuhan standar. Kendati demikian, tak semua perusahaan pers mampu menyediakan fasilitas liputan langsung dari lokasi karena investasi dan biaya operasionalnya mahal…

Penulis:

Muhammad Salahuddien Manggalany
lebih akrab disapa Pataka atau Didin. Lahir di Malang, 22 Mei 1971. Lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Nasional Malang itu kini tengah menyelesaikan tesis pasca sarjana pada Manajemen Pemasaran di Universitas Muhammadiyah Malang. Pendiri dan penggiat Indonesia Wireless LAN Internet Association  (IndoWLI) serta Presidium Nasional Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari). Didin tinggal di Jakarta dan bisa dihubungi melalui e-mail aku@pataka.net. Situs pribadinya ada di www.pataka.net.

Unduh Peran dan Kualifikasi Tenaga TI di Daerah Bencana

Saya Ingin Pandai, Tapi Saya Sangat Bodoh

Di bawah gerimis, kami meninggalkan Banda Aceh selepas ashar, 2 September 2005. Kami menumpang mobil milik Flora Fauna International yang kebetulan sedang menjalankan misi ke Calang. Bersama kami dua staf FFI, Abenk dan Mahdi, serta seorang teman dari Medicos Du Monde, LSM Spanyol yang menyediakan pelayanan kesehatan di ibukota Aceh Jaya itu.

Rute Banda Aceh – Calang kami tempuh memutar melalui Geumpang dan Meulaboh. Menurut teman-teman FFI, jalur normal menyusuri pantai barat Aceh, masih terputus. Rute putar itu memakan waktu 14 jam, dua kali lebih lama ketimbang rute normal.

Menjelang maghrib kami tiba di Tangse, sebuah kota kecamatan di pinggang bukit. Di bawah matahari sore, teras-teras sawah tampak seperti lelehan madu yang dituang dari sorga. Belasan kerbau berkeliaran bebas. Sebagian lainnya berendam di aliran sungai tak jauh dari jalan raya. Kami menyempatkan diri beristirahat untuk menikmati sedapnya kopi Tangse…

Penulis:

Rudiyanto Dwi Saputra, anggota termuda Yayasan AirPutih ini lahir di Blitar, 10 November 1983. Jika tidak sedang berada di Aceh, Rudy bisa ditemukan di dusun Pakunden, Blitar, sambil menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Teknik, Institut Teknologi Nasional Malang. Rudy juga bergiat di Lembaga Penerbitan Mahasiswa Inovasi.

Okta Setiawan, lahir di Malang, 19 Oktober 1976. Ketika kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, Okta aktif sebagai pembina ekstrakurikuler pencinta alam Mayapada SMA 8 Malang. Selain itu, Okta juga aktif di tim SAR Mahameru Malang. Kini, Okta masih berada di Aceh dan bisa dihubungi di okta@airputih.or.id.

Unduh Saya Ingin Pandai, Tapi Saya Sangat Bodoh

Membuka Isolasi Tano Niha

Sihai Uwu Nangi (Yang Adi Kuasa) meniupkan angin besar hingga terjadilah taufan dan badai luar biasa. Terciptalah alam semesta raya, bumi beserta isinya. Kemudian Sihai Uwu Nangi menciptakan pohon Tora’a, dari mayangnya terjadilah seorang manusia, nenek moyang laki-laki yang diberi nama Mosilaowa Tuha. Dari Tora’a Sihai Uwu Nangi menciptakan manusia yang menjadi nenek moyang perempuan bernama Buruti Sangazöngazökhi. Oleh Sihai Uwu Nangi kedua mahluk ini dipertemukan dan dijadikan suami istri.

****

Nias, sungguh sebuah pulau yang elok lagi eksotis dengan limpahan kekayaan tradisi. Masyarakat Nias percaya mitologi yang menyebutkan bahwa pasangan Mosilawoa Tuha dan Buruti Sangazongazokhi cikal bakal pertama Nias. Mereka beranak-pinak mewariskan seni dan tradisi. Menhir, dolmen, dan patung megalitik yang megah mewarnai tanah Nias yang juga dikenal sebagai tanö niha…

Penulis:

Imron Fauzi akrab disapa Roim, lahir di Malang, 4 November 1977. Sempat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang dan aktif dalam Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Brawijaya Malang (Impala Unibraw). Sebelum terlibat penuh di AirPutih, Roim merupakan spesialis SITAC, sebagai SITAC Surveyor. Sebelumnya, Roim bekerja sebagai pemandu teknis pada beberapa perusahaan jasa outbound. Emailnya kalong439@yahoo.com dan blog-nya ada di http://kosong.blogsome.com.

Unduh Membuka Isolasi Tano Niha