Author Archive

Mardiyah Chamim

Wartawan Tempo sejak 1998. Menjelajah berbagai desk, antara lain ekonomi, nasional, kesehatan, sains, gaya hidup, dan investigasi. Sejak Januari 2009 ditugasi menjadi Direktur Eksekutif Institut Tempo, sebuah lembaga yang dicita-citakan menjadi pusat pengembangan jurnalistik di Indonesia. Lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1996. Setelah lulus kuliah, bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi (1996) sebagai staf riset dan kemudian menjadi reporter di majalah Panji Masyarakat (1997).

Pada Awalnya Adalah Gagasan

Tutorial menulis ini saya awali dengan menjawab pertanyaan yang paling sering diajukan teman-teman. Model tutorial, supaya lebih komunikatif, saya terapkan dalam formula Q & A (question and answer). Mudah-mudahan dengan cara begini tidak timbul kesan menggurui. Saya juga masih dan terus belajar menulis, kok.

Q : Bagaimana mengawali sebuah tulisan?

A : Ya, mulai saja. Just do it, kata merek sepatu Nike. Awal dari sebuah tulisan, apa pun itu, adalah : gagasan atawa ide. Semua tulisan membawa ide yang ada di dalam kepala kita untuk disampaikan kepada para pembaca. Yang penting adalah ide, ide, ide, dan ide. Begitu ketemu, langsung tulis. Bisa dengan diketik di komputer atau tuliskan di lembaran kertas.

Sumber ide bisa datang dari mana saja. Rajin-rajin belanja ide, dengan membaca novel, menonton film, mendengar musik, tentu sangat membantu.

Bagi teman-teman di Aceh, kedai kopi yang ada nyaris di setiap sudut jalan adalah sumber gagasan yang dijamin tak pernah kering. Bayangkan, ratusan orang berkumpul di sana setiap hari. Orang-orang ini bertukar kabar, saling menyapa, dan bertukar informasi. Kita bisa mengulas beragam topik dari keriuhan kedai kopi. Kita akan membahas lebih rinci dalam pembicaraan mengenai angle dan organisasi ide nanti.

Read the rest of this entry →

Lomba Blog “Ayo Menuliskan Aceh di Internet!” (DITUTUP)

Menindaklanjuti rangkaian seminar “Ayo Menuliskan Aceh di Internet yang telah dilakukan, maka Komunitas Aceh Blogger dengan didukung oleh Ford Foundation, Global Environment Facility – Small Grants Programme Indonesia, Airputih Palapa, Institut Tempo, dan Aceh Information Technology Development akan menggelar acara Lomba Blog “Ayo Menuliskan Aceh di Internet”.

Persyaratan Peserta:

  1. Memiliki blog
  2. Melampirkan daftar riwayat hidup, alamat lengkap, nomor telepon, email dan dikirimkan ke info@acehjourney.net.

Read the rest of this entry →

INONG

batu jeurat, puan dan tuan
dari kompeni sampai TNI
serpihan asal seribu ombak: marah
marahku mengaum dialiran sungai-sungai
sebab tuhaku kaum tak sempat menulis kisah didaun atau kertas
sebab pena anak batu pedang, percik darah di kain kafan ; itu riwayatku
telah menjadi silsilah

periksalah tujuh ke atas cabang selemparan batu
kakekku mengayunkan pedang; menulis kematian dibelukar seulawah inong ataukah agam
lalu abu mengepit rencong diantara paha
mewariskan peluru dalam kenduri tujuh hari
dalam lepas empat puluh empat hari:
aku desing hari!

mengantar roh pulang ke rumah asal
sampai batu tumbuh
buahnya
pohon belimbing buluh sembilu
diracik mamak mengasamsuntikan susu
melarut dalam pusaran kental santan
tumbuhlah aku pagar-pagar pedang
melepas biji-biji dalam sangrai kopi

tariklah satu serup buat heningkan diri
lepaslah pula rasa kecut selagi musuh tidur
saatnya mamak menanak nasi lemak

mengingat bayang-bayang memantul dari kerudung
mengombak perih meretakkan kulit telur pecah dijemari
lembaganya meriapkan lendir dalam warna menyilau
aku tak tahu mengapa, kupu-kupu tak serupa asal
ulat tak perlu kenal wajah kepompongnya
allah, beri aku seribu wajah

batu ditanam disetiap badan mati
diundi diatas meja saat gelas-gelas melepuhkan kopi
menghitung jumlah yang hidup, menutup mengganti yang mati
setiap tangan menunjuk penghidup batu

aku batu mainan melupakan pilu waktu
anginlah bertugas menangisi kematian batu batu
sambil mencecap rasa kopi merasakan kecutnya asap sunti

aku tak lebih mambang
rahim saban pagi
melahirkan semua arah dan wajah tak terkira pilunya
menggerus duka masa masa ; satu kawan pergi ngambang di langit, airmata meneteskan di pipi nisan, sungai-sungai memiliki tuan
buat penggantiku, batu ditanam, hiduplah batu!
membuatku ngambang sampai kini
saban pagi

Cok Sawitri, penyair
(Aceh, 2008)

Buat Relawan

Mungkin tak terbayang olehmu,
Senyum sesaat membuka bungkus penuh sidik jarimu
Mata nanar sekejap berucap, di Aceh sana
Mungkin memang tak perlu, karna memberi adalah memberi
Begitu saja.

11 Januari 2005,
Henry C. Widjaja