Kompetisi Esai “Nasionalisme Di Mata Saya”
Nasionalisme dan kepemimpinan hanyalah kata-kata kosong sampai kita mengisinya dengan gagasan, sikap kritis, pengalaman, harapan. Sebagai individu, juga sebagai bagian dari bangsa, masing-masing kita memiliki tafsir yang khas atas kedua konsep besar itu.
Kompetisi Esai untuk Mahasiswa 2009 “MENJADI INDONESIA”, kerja sama Tempo Institute dan Sekretariat Dewan Ketahanan Nasional, ini digelar dalam rangka memperingati delapan windu Indonesia merdeka.
Kompetisi ini adalah sebuah ikhtiar membuka kran penafsiran gagasan nasionalisme dan kepemimpinan di kalangan kaum muda. Kaum muda, dari berbagai latar belakang budaya dan agama, lebih dari siapa pun, memiliki hak untuk mengubah dan menentukan Namun, kurangnya keahlian dan kesempatan membuat kaum muda kerap terasing dari proses kemasyarakatan.
Bagaimana kamu menjadi bagian dari masyarakat yang aktif membangun demokrasi? Apa artinya menjadi warga negara bagimu? Bagaimana kamu menyampaikan pendapat, membuka saluran ekspresi, dan mendorong partisipasi masyarakat untuk membenahi persoalan yang ada di lingkunganmu?
Pastikan memulai esai Anda dengan menggambarkan situasi lokal di wilayahmu, juga mengeksplorasi gagasan orisinil yang dilakukan kaum muda dalam membenahi kondisi daerah.
Tema : “Nasionalisme di mata saya”
Topik ini bisa dibahas dari berbagai sudut pandang, antara lain:
1. Budaya
Budaya bukanlah sekadar kesenian, tapi keseluruhan sistem sosial yang membangun sebuah masyarakat. Bagaimana gagasanmu dalam mewujudkan Indonesia yang kokoh, yang sanggup mengatasi kesenjangan kaya-miskin? Bagaimana pula membangan masyarakat Indonesia yang punya kebanggaan dan keteguhan dalam berkarya, tidak rendah diri, malu korupsi, serta memiliki semangat juang dan pantang menyerah?
2. Ekonomi
Pemerintah mencanangkan 2009 sebagai tahun ekonomi kreatif. Bagaimana kamu memandang hal ini? Apa sebetulnya ekonomi kreatif di matamu? Bagaimana anak muda bisa terlibat lebih aktif dalam gagasan ekonomi kreatif? Sarana apa saja yang dibutuhkan untuk itu? Bagaimana menjadikan ekonomi kreatif sebagai bagian dari mendefinisikan kembali nasionalisme secara mutakhir?
3. Kepemimpinan
Indonesia boleh berbangga karena menjadi negara dengan pemilu langsung pada berbagai tingkatan, mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat nasional.
Namun, ratusan pesta demokrasi pemilihan langsung itu tidak serta-merta diikuti dengan peningkatan kualitas kepemimpinan. Nilai-nilai kepemimpinan, terutama melayani masyarakat, tidak mendapat tempat dengan baik. Perebutan menjadi pejabat, anggota dewan perwakilan di berbagai tingkatan, tak lebih dari sekadar wujud keinginan berkuasa tanpa diiringi kesediaan melayani.
Bagaimana kamu memandang persoalan ini? Apa yang mestinya dilakukan kaum muda yang nota bene adalah pemimpin masa depan?
4. Sosial
Para pendiri bangsa ini mengamanatkan dengan jelas bahwa Indonesia adalah negara yang plural. Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, dengan gagah menyiratkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang bangga akan keragaman. Suku, agama, dan bahasa yang berbeda-beda bukanlah halangan dalam hidup berbangsa, bahkan menjadi sumber kekayaan tiada habis.
Namun, belakangan ini kebanggaan dan hormat pada keragaman pelahan terkikis. Bagaimana kaum muda menyikapi hal ini, apa yang bisa kamu lakukan untuk menumbuhkan kembali toleransi dan kebanggaan akan keragaman?
PESERTA :
Tercatat sebagai mahasiswa (program D3, S1)
DEWAN JURI
Terdiri dari akademisi, budayawan, aktivis sosial, dan pemerhati dinamika kaum muda
MENTOR :
Pada kompetisi esai ini, panitia menyediakan fasilitas pendampingan dari mentor yang tersebar di berbagai wilayah. Peserta dipersilakan berdiskusi, konsultasi, dengan mentor baik melalui pertemuan langsung maupun melalui surat elektronik. Daftar mentor akan dijelaskan lebih lanjut, salah satu mentor adalah Raditya Dika, penulis blog “KAMBING JANTAN” yang telah dibukukan dan difilmkan.
PERSYARATAN :
• Panjang esai 5-10 halaman kuarto, spasi ganda
• Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apa pun
• Tulisan dikirimkan kepada panitia melalui surat elektronik ke : menjadi-indonesia@mail.tempo.co.id
• Tulisan juga dikirimkan melalui pos ke alamat sekretariat “Menjadi Indonesia”, Jalan Proklamasi 72, Jakarta 10320
KRITERIA PENILAIAN
• Tulisan mengemukakan gagasan kreatif
• Gagasan yang dikemukakan (atau sudah diterapkan) memberi kontribusi bagi masyarakat
• Orisinalitas gagasan mendapat porsi penilaian lebih banyak dibanding keindahan tata bahasa
HADIAH
Pemenang I : Laptop, sertifikat, dan uang tunai Rp 6.000.000
Pemenang II : Laptop, sertifikat, dan uang tunai Rp 4.000.000
Pemenang III : Laptop, sertifikat, dan uang tunai Rp 2.000.000
20 peserta terbaik akan mendapat kesempatan mengikuti “Kamp Pelatihan Menulis dan Kepemimpinan”, di Jakarta, pertengahan Agustus 2009.
Kamp pelatihan ini adalah peluang yang amat berharga bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berargumen melalui tulisan dan menimba wawasan kebangsaan langsung dari para narasumber terbaik.
Informasi lengkap mengenai kompetisi esai dan pelatihan bisa diakses melalui situs www.tempo-institute.org
####

















Wartawan Tempo sejak 1998. Menjelajah berbagai desk, antara lain ekonomi, nasional, kesehatan, sains, gaya hidup, dan investigasi. Sejak Januari 2009 ditugasi menjadi Direktur Eksekutif Institut Tempo, sebuah lembaga yang dicita-citakan menjadi pusat pengembangan jurnalistik di Indonesia. Lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1996. Setelah lulus kuliah, bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi (1996) sebagai staf riset dan kemudian menjadi reporter di majalah Panji Masyarakat (1997).
walah khusus mahasiswa.. Gx bisa ikutan… Wat kakak2 abang2, semangat yaw…
Wah bisa ikutan nich, biar gini-gini masih tercata sebagai mahasiswa….
@ Rudy: silakan, ayo ikut. kalau perlu kirim usulan ide di sini, nanti kita bahas sama-sama. Selamat berkarya..!
Kalau temanya menyangkut dengan pendidikan gimana mbak!
Oia, kapan waktu terakhir pengiriman naskah!
Halo Zulham, tentu bisa. Pendidikan adalah salah satu problem serius, nasionalisme bisa dikupas dari sudut pandang pendidikan tentunya.
Deadline pengiriman tulisan akan diperpanjang sampai September 2009 (pengumuman menyusul). Selamat berkarya
semua kalangan bisa ikutankan?
slama merah putih masih bernafas mengibarkan ke elokannya di tiang tertinggi… slama itu juga Nasionalisme di dada kan tetap ada…!
bisa ngasih bocoran gak,mentornya siapa aja???soalnya di situs terkait ga bisa diproses. Makasih
situsnya gak bisa dibuka mbak mardiyah….gmn donk???gak bisa liat daftar mentornya neh
tema yang sangat menarik….. tapi pertanyaannya gimaana dengan teman-teman yang ga masuk nominasi…..??????????????????
lomba yang sangat amat nasionalis sekalai,,,