Pada Awalnya Adalah Gagasan

Tutorial menulis ini saya awali dengan menjawab pertanyaan yang paling sering diajukan teman-teman. Model tutorial, supaya lebih komunikatif, saya terapkan dalam formula Q & A (question and answer). Mudah-mudahan dengan cara begini tidak timbul kesan menggurui. Saya juga masih dan terus belajar menulis, kok.

Q : Bagaimana mengawali sebuah tulisan?

A : Ya, mulai saja. Just do it, kata merek sepatu Nike. Awal dari sebuah tulisan, apa pun itu, adalah : gagasan atawa ide. Semua tulisan membawa ide yang ada di dalam kepala kita untuk disampaikan kepada para pembaca. Yang penting adalah ide, ide, ide, dan ide. Begitu ketemu, langsung tulis. Bisa dengan diketik di komputer atau tuliskan di lembaran kertas.

Sumber ide bisa datang dari mana saja. Rajin-rajin belanja ide, dengan membaca novel, menonton film, mendengar musik, tentu sangat membantu.

Bagi teman-teman di Aceh, kedai kopi yang ada nyaris di setiap sudut jalan adalah sumber gagasan yang dijamin tak pernah kering. Bayangkan, ratusan orang berkumpul di sana setiap hari. Orang-orang ini bertukar kabar, saling menyapa, dan bertukar informasi. Kita bisa mengulas beragam topik dari keriuhan kedai kopi. Kita akan membahas lebih rinci dalam pembicaraan mengenai angle dan organisasi ide nanti.

Q : Setelah ide ketemu, apa langkah selanjutnya?

A : Tentu saja langsung menulis. Tapi, pelaksanaannya tidak sesederhana itu. Ada beberapa langkah persiapan dan mempertajam gagasan dulu. Bukan hanya partai, ide pun perlu diorganisir supaya rapi dan memudahkan penulisan.

Memang, ada tipe penulis yang langsung bisa menuangkan ide dalam tulisan tanpa perencanaan atau organisasi ide terlebih dulu. Novelis Budidharma termasuk dalam kelompok ini. Dia menulis dan menulis, seolah kata-kata tumpah begitu saja dari pikirannya. Tapi, orang seperti Budidharma amat langka. Jauh lebih banyak penulis hebat yang melakukan tahap persiapan, organisasi ide, yang rapi jali sebelum benar-benar menulis. John Grisam, yang terkenal dengan novel Pelican Brief dan The Firm, misalnya, melakukan riset yang luar biasa sehingga karyanya selau penuh dengan detil yang kaya dan penuh warna.

Sekali lagi, organisasi ide dibutuhkan untuk mempersiapkan tulisan yang bernas dan enak dibaca.

Q : Apa langkah terpenting dalam organisasi ide?

A : Pertama dan paling utama: tentukan angle atau sudut pandang yang kita inginkan. Setiap permasalahan memiliki aneka ragam sudut pandang, bisa positif, bisa negatif, bisa juga netral, pokoknya macam-macam.

Merumuskan angle adalah resep yang wajib dan tak boleh ditinggalkan. Penulis yang mengabaikan ketajaman angle biasanya hanya memproduksi tulisan yang membikin bingung pembacanya. Ada beberapa panduan dalam menentukan angle, yakni:

  1. Sebuah tulisan harus memiliki SATU angle. Jika tak mau tulisan jadi membingungkan, maka bersetialah pada angle yang sudah dipilih. Apabila terdapat beberapa pilihan angle, pilih yang paling menarik atau bisa juga ditulis pada bagian lain.
  2. Untuk merumuskan angle, lebih mudah jika digunakan kalimat tanya. Misalnya :
    • apa saja sih topik utama obrolan di kedai kopi?
    • berapa kilogram kopi yang dihabiskan dalam sehari di 3 kedai kopi paling ramai di Banda Aceh?
    • bagaimana sejarah kedai kopi Solong yg kemudian berkembang menjadi kedai Cek Yuke, SMEA, dan Darussalam?

Pada tulisan saya, di bab 1 di buku Sejarah Tumbuh di Kampung Kami, saya mengambil ide pokok tentang betapa kedai kopi menjadi titik pusat perubahan di Aceh pascatsunami. Di kedai, segala hal diperbincangkan, mulai dari politik, proses perdamaian, gosip korupsi di sebuah instansi, sampai curhat remaja yang patah hati. Jadi, saya memilih angle : bagaimana kedai kopi bisa menjadi perekam denyut kehidupan baru di Aceh pascatsunami?

Nah, semakin tajam rumusan angle, semakin bagus dan semakin mudah untuk dituliskan. Silakan bereksperimen. Cari ide dan rumuskan angle.

Sampai di sini dulu tutorial kali ini. Sampai bertemu pekan depan dengan topik “Kerangka Tulisan“.

Tabik.

Bersambung…..

  • Digg
  • Facebook
  • del.icio.us
  • Google Bookmarks
  • Technorati
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Mixx
  • Ping.fm
  • Sphinn
  • StumbleUpon
  • MySpace


Comments 7

Pada Awalnya Adalah Gagasan

  1. 1

    Menentukan angel apakah sama dengan menentukan judul? atau angel adalah menentukan topik apa yang ingin kita angkat. Saya sering dalam menulis larinya kemana-mana, ya mungkin karena tidak pernah merencanakan sebelum menulis, ada ide ya nulis aja, yg akhirnya tidak cukup bahan yang berakibat pada hasil tulisan yang gak nyambung. hehehe

    mohon masukan masih newbie habis dalam menulis.

  2. 2

    Fadli yang newbie menulis,

    Angle adalah sudut pandang yang kita pilih. Judul bisa belakangan setelah tulisan jadi.

    Angle itu ibarat panduan yang selalu mengingatkan kita, apa sih yang mau kita tulis? gunanya, ya, supaya tulisan tidak lari ke mana-mana seperti pengalaman Fadli.

    Jadi, urutan langkahnya seperti ini:
    1. menentukan ide tulisan, topik permasalahan apa (ingat, topik berbeda dengan angle).

    Misalnya : Partai Aceh memenangkan suara dalam pemilu 2009 untuk DPRA. Ini permasalahan, fakta yang ada di lapangan, angle belum ditentukan.

    2. nah, sekarang menentukan angle. Permasalahan di atas (kemenangan PA) bisa dipandang dari beberapa sudut pandang (angle), yakni :
    - apa resep sukses Partai Aceh sehingga bisa memenangkan pemilu?
    - siapa saja aktor di belakang layar yang menentukan kemenangan Partai Aceh?
    - apa langkah selanjutnya yang akan ditempuh Partai Aceh setelah memenangkan pemilu 2009? konsolidasi seperti apa?

    begitu dulu. mudah-mudahan dimengerti.

  3. 3

    sorry aku OOT mbak. penulisan pascatsunami dalam posting ini sebenarnya pascatsunami atau pasca tsunami? karena aku sering sekali nulis pasca tsunami.

  4. 4

    @ dudi: yang bener pascatsunami (disambung). Ini karena mengadopsi awalan post dlm bahasa Inggris, misalnya postgraduate atau postpartum. Begitu…, om dudi

  5. duy #
    5

    Tentang angle, mbak. Kalau tulisan yang sifatnya seperti renungan, pemikiran, apakah itu juga pakai satu angle? Kadang aku nemu tulisan yang sifatnya paradoks, positif dan negatif sekalian, trus endingnya para pembaca disuruh mikir sendiri mau pilih yang mana. Itu rumusnya gimana ya mbak? :)

    Btw, post nya ciamik banget mbak :)

  6. 6

    Halo Duy,

    hm….sebenarnya yang kumaksud dengan positif, negatif, itu hanya ilustrasi. Pesan utamanya adalah jika sudah memilih SATU angle, maka setialah padanya (kayak sama pasangan, ya). Jika tidak, maka tulisan akan membingungkan.

    Nah, tulisan yang dikau baca, menurut keyakinanku (karena aku nggak membaca langsung), tetap punya SATU angle. Apa angle yang dia pilih? Membedah untung-rugi, positif-negatif, suatu hal. Jadi, bahasannya tentu saja tentang segi poitif dan negatif hal tersebut. Dan, karena dia hanya bertujuan memaparkan persoalan, maka ending dia buat terbuka dan pilihan diserahkan pada pembaca.

    Angle “untung-rugi” ini cocok untuk topik yang kontroversial, misalnya:
    1. Bagaimana untung-rugi partai lokal Aceh? (pasti seru kalau dibahas waktu RUU Pemilu dibuat)
    2. Bagaimana manfaat dan mudharat PLTN di Indonesia?

    Bisa juga sih angle ini diterapkan untuk topik renungan, misalnya seseorang yang sedang berada di persimpangan (ideologi, karir, cinta –halah sentimentil amat), maka dia bisa menulis : Ke mana angin di hatiku bertiup?

    Begitu. Cukup jelas?

    Oh ya, bagaimana kalau teman-teman berlatih. Kirimkan ide topik persoalan dan pilihan angle yang terlintas di pikiran. Nanti kita bahas bersama.

    Tabik..

  7. 7

    nambah ilmu lagi nih…



Your Comment