Saya Ingin Pandai, Tapi Saya Sangat Bodoh

Di bawah gerimis, kami meninggalkan Banda Aceh selepas ashar, 2 September 2005. Kami menumpang mobil milik Flora Fauna International yang kebetulan sedang menjalankan misi ke Calang. Bersama kami dua staf FFI, Abenk dan Mahdi, serta seorang teman dari Medicos Du Monde, LSM Spanyol yang menyediakan pelayanan kesehatan di ibukota Aceh Jaya itu.

Rute Banda Aceh – Calang kami tempuh memutar melalui Geumpang dan Meulaboh. Menurut teman-teman FFI, jalur normal menyusuri pantai barat Aceh, masih terputus. Rute putar itu memakan waktu 14 jam, dua kali lebih lama ketimbang rute normal.

Menjelang maghrib kami tiba di Tangse, sebuah kota kecamatan di pinggang bukit. Di bawah matahari sore, teras-teras sawah tampak seperti lelehan madu yang dituang dari sorga. Belasan kerbau berkeliaran bebas. Sebagian lainnya berendam di aliran sungai tak jauh dari jalan raya. Kami menyempatkan diri beristirahat untuk menikmati sedapnya kopi Tangse…

Penulis:

Rudiyanto Dwi Saputra, anggota termuda Yayasan AirPutih ini lahir di Blitar, 10 November 1983. Jika tidak sedang berada di Aceh, Rudy bisa ditemukan di dusun Pakunden, Blitar, sambil menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Teknik, Institut Teknologi Nasional Malang. Rudy juga bergiat di Lembaga Penerbitan Mahasiswa Inovasi.

Okta Setiawan, lahir di Malang, 19 Oktober 1976. Ketika kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, Okta aktif sebagai pembina ekstrakurikuler pencinta alam Mayapada SMA 8 Malang. Selain itu, Okta juga aktif di tim SAR Mahameru Malang. Kini, Okta masih berada di Aceh dan bisa dihubungi di okta@airputih.or.id.

Unduh Saya Ingin Pandai, Tapi Saya Sangat Bodoh



Your Comment