Fragmen dari Serambi Mekkah
Rabu, 29 Desember 2005, tiga hari setelah tsunami. Dengan menumpang helikopter militer Amerika Serikat, relawan AirPutih Alfian Hamzah mendarat di Teunom, kota kecil di dekat Calang, ibukota Aceh Jaya. Alfian sengaja diterjunkan di kawasan pantai barat untuk meliput daerah yang paling berat terkena musibah, namun paling sulit dijangkau relawan. Alfian yang juga wartawan Kantor Berita Pena Indonesia itu bertugas untuk melaporkan semua perkembangan terakhir dari daerah bencana dan secepat mungkin menyiarkan reportasenya kepada dunia.
Alfian merupakan satu dari dua relawan yang pertama kali dikirim AirPutih dengan menumpang pesawat hercules dari Jakarta, dua hari setelah tsunami. Terbang bersama Alfian adalah Anjar Ari Nugroho, spesialis pembangun jaringan internet. Anjar ditugaskan untuk tetap berada di Banda Aceh dengan misi membuka isolasi komunikasi sehingga informasi tentang daerah bencana bisa segera dikabarkan ke seluruh penjuru jagad.
Semula, tujuan Alfian adalah Meulaboh, kota yang kabarnya paling remuk digasak ombak, tapi paling sulit dijangkau relawan. Ketika heli melayang di atas daerah yang hancur, rata dengan tanah, Alfian bertanya kepada awak heli, “Is that Meulaboh?” Bule Amerika itu mengangguk. Maka melompatlah Alfian dengan sigapnya ke sebuah tanah lapang. Ternyata, mereka baru sampai ke Teunom — 150 kilometer sebelum Meulaboh. Kesalahan baru disadari setelah heli tumpangan itu terbang menjauh.
Penulis:
Edwardo Rusfid, atau Edo, lahir di Bukittinggi, pada 20 Januari 1977. Menyelesaikan masa sekolah SD, SMP dan SMA di Bukittinggi dan berpindah ke Kota Malang Jawa Timur untuk melanjutkan perguruan tinggi. Lulus dari Teknik Elektro Universitas Brawijaya pada tahun 2001. Pernah menjabat sebagai Ketua Yayasan AirPutih pada periode tahun 2005-2006.
Unduh Fragmen dari Serambi Mekkah

















Wartawan Tempo sejak 1998. Menjelajah berbagai desk, antara lain ekonomi, nasional, kesehatan, sains, gaya hidup, dan investigasi. Sejak Januari 2009 ditugasi menjadi Direktur Eksekutif Institut Tempo, sebuah lembaga yang dicita-citakan menjadi pusat pengembangan jurnalistik di Indonesia. Lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1996. Setelah lulus kuliah, bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi (1996) sebagai staf riset dan kemudian menjadi reporter di majalah Panji Masyarakat (1997).