Dari Radio Hingga Satelit – Teknologi Nirkabel di Daerah Bencana
Di daerah bencana, teknologi nirkabel dipilih untuk percepatan. Membangun jaringan kabel dalam waktu singkat merupakan pilihan mustahil. Kabel primer, kabel distribusi dan saluran fiber optic yang ada, telah hancur. Begitu pula jaringan microwave terrestrial antar kota yang terputus dan tower yang roboh, rusak atau hilang tersapu tsunami.
Bisa dikatakan, infrastruktur telekomunikasi lumpuh. Operator hanya mampu mengaktifkan beberapa STO (Sentral Telepon Otomat) untuk layanan suara (voice) saja. Itupun kapasitasnya tak memadai, stabilitas dan kualitas layanannya masih rendah, sedangkan layanan transmisi data tak tersedia sama sekali.
Di pantai barat Aceh, telekomunikasi bahkan sama sekali terputus. Telepon satelit bisa digunakan, tapi mahal, kualitasnya terbatas, tidak tahan lama operasionalnya, terhambat sumber daya listrik yang sulit didapatkan. Listrik tak tersedia karena saluran transmisi dan distribusi daya juga terputus. Stasiun pembangkit rusak, hanya beberapa yang beroperasi bergantian karena keterbatasan bahan bakar (solar – diesel). Penggunaan listrik dibatasi dan diprioritaskan untuk kegiatan yang memang vital seperti instalasi kesehatan dan keamanan.
Penulis:
Muhammad Salahuddien Manggalany lebih akrab disapa Pataka atau Didin. Lahir di Malang, 22 Mei 1971. Lulusan Teknik Industri Institut Teknologi Nasional Malang itu kini tengah menyelesaikan tesis pasca sarjana pada Manajemen Pemasaran di Universitas Muhammadiyah Malang. Pendiri dan penggiat Indonesia Wireless LAN Internet Association (IndoWLI) serta Presidium Nasional Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari). Didin tinggal di Jakarta dan bisa dihubungi melalui e-mail aku@pataka.net. Situs pribadinya ada di www.pataka.net.
Unduh Dari Radio Hingga Satelit – Teknologi Nirkabel di Daerah Bencana

















Wartawan Tempo sejak 1998. Menjelajah berbagai desk, antara lain ekonomi, nasional, kesehatan, sains, gaya hidup, dan investigasi. Sejak Januari 2009 ditugasi menjadi Direktur Eksekutif Institut Tempo, sebuah lembaga yang dicita-citakan menjadi pusat pengembangan jurnalistik di Indonesia. Lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1996. Setelah lulus kuliah, bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi (1996) sebagai staf riset dan kemudian menjadi reporter di majalah Panji Masyarakat (1997).