PROLOG – Tentang Kehilangan

Kehilangan. Tak banyak kata yang sanggup melukiskan perasaan ini: sebuah lorong gelap yang menganga, menusuk menikam jauh ke ulu hati. Tikaman itu kian tak tertahankan ketika yang hilang adalah orang-orang terdekat, dan bukan hanya satu, sepuluh, atau seribu, yang “pergi” bersama-sama dalam tempo sekejap. Lewat  mata korban tsunami yang tersisa, kita tahu, lubang gelap itu alangkah dalamnya.

Lorong gelap itu pula yang menyedot Fahrumi, 32 tahun, sehingga ia memilih hidup di atas taksi. Dia menyewa sebuah sedan tua warna kuning untuk dijadikan rumah, tempat tingal sekaligus sumber penghasilan. Sepanjang hari, pagi-siang-malam, ia berkeliling, mondar-mandir ke seantero kota mencari penumpang (yang tak selalu ada), atau sekadar menghabiskan umur. Fahrumi bukan tak punya tenda pengungsian tempat ia bisa pulang. Namun, katanya, “Tinggal di tenda membuat saya selalu teringat anak istri. Saya bisa gila. Bahkan sampai sekarang, mayat mereka pun tak dapat saya temukan. ”

Ada kalanya, jika rasa rindu begitu menyiksa, Fahrumi mampir, datang ke tapak bekas rumahnya di Gampong Blang Oi, Ulee Lheue, Banda Aceh. Di antara reruntuhan, tak ada lagi yang dapat dia temui, kecuali “sedikit lantai yang masih tinggal”. Rumah, perkakas, perabot, semua hilang sudah—tapi semua itu tak juga menghapus kenangan kepada isteri dan anak lelaki satu-satunya.

Unduh PROLOG – Tentang Kehilangan



Your Comment