Bab XXI – Kabar Baik dari Lamsenia

Hari-hari berlalu, kehidupan berputar. Mereka yang pergi, pelan-pelan mulai bisa dilupakan, sampai tiba saatnya hari lebaran. Ketika itulah jiwa-jiwa yang hilang seperti hadir kembali ke tengah keluarga. Anak, istri, ayah, bunda, orang-orang terdekat yang selama ini pergi, terasa seperti kembali pulang ke kampung dengan senyuman dan oleh-oleh di tangan. Mereka yang ditinggalkan menyambut dengan tangisan. Dan mereka pun berpelukan setidaknya dalam kenangan…

Pagi itu, bersama 300-an warga Kecamatan Leupung, saya baru saja selesai salat ied. Meunasah di pinggir pantai mulai sepi ditinggalkan jemaah. Suara ombak terdengar lamat-lamat. “Ayo, ikut kami.” Saya melihat Kak Neh, 29, melambaikan tangan. Bersama suaminya, Martunis, 32, saya mengikuti Kak Neh menuju satu tempat yang terendam air setinggi lutut.

“Ini dulu kampung padat,” katanya, “sekarang sudah jadi empang.” Tiba-tiba dia menunjuk sebuah titik. “Persis di sebelah sana rumah ayah kami,” katanya.

Sarung dan celana mesti digulung setinggi paha agar kami bisa mendekat ke titik itu. Di sana, hanya ada sebentuk tiang gompal dan beberapa ruas tembok yang mencuat ke permukaan. Kak Neh dan suaminya duduk di atas serpihan bata, membuka kitab Yasin.

“Di sinilah anak-anak, keluarga dan teman-teman kami meninggal,” kata Martunis sebelum mulai berdoa.

Unduh Bab XXI – Kabar Baik dari Lamsenia



1 Trackbacks/Pingbacks

  1. Dari Riza yang ingin ikut lomba menulis “Gampong” | Journey to Aceh 19 06 09

Your Comment