Terkenang Blang Padang
BLANG PADANG. Tiga tahun lalu saya menjejakkan kaki di lapangan di jantung Kota Banda Aceh ini. Hampir tengah malam kala itu. Aroma busuk pekat menggantung di udara. Masker pelindung pun tak berdaya menahan bau yang menyerbu saraf penciuman. Esok paginya, saat terang tanah, barulah saya menyaksikan sumber bau, ribuan mayat yang berserakan di setiap jengkal lapangan. Ribuan mayat yang binasa karena amuk tsunami.
Tiga hari lalu, saya kembali menyambangi Aceh. Kali ini saya menginap di Wisma Nusa Cendana, Pungee, hanya sepelemparan batu dari Blang Padang. Serangkaian video kenangan berputar kembali di benak saya, mulai keruwetan evakuasi jenazah, orang-orang bertangisan mencari kerabat, sampai sukarelawan yang pucat pasi menyaksikan mayat di setiap jengkal jalanan. Setiap detail kenangan berputar dengan cepat, maju-mundur.
Kalau boleh memilih, sebenarnya saya enggan menginap di Pungee. Inilah kompleks pertokoan tempat Tim Relawan Tempo, pada 3-16 Januari 2005, memusatkan kegiatan. Kami berdua belas waktu itu membantu evakuasi mayat di sini. Harap dicatat, saya hanya membantu mendokumentasikan kegiatan, paling banter merapikan masker teman-teman yang langsung bersentuhan dengan mayat. Pada waktu itu, ada 13 mayat yang dapat dievakuasi tim kami di kompleks Pungee ini.
Nah, salah satu ruko tempat evakuasi itu kini diubah menjadi penginapan Wisma Nusa Cendana. Dan itulah yang kini saya inapi. Alamak. Merinding saya waktu pertama kali memasuki kamar. Tapi bagaimana lagi? Semua hotel dan penginapan sudah penuh menyambut peringatan tiga tahun tsunami plus Idul Adha. “Sudah dibersihkan dari sisa-sisa tsunami, Kak. Jangan khawatir,” begitu komentar Agam, anak muda penjaga wisma. Oke, deh.
Pagi itu, setelah mengurus administrasi kamar, saya kembali mencium aroma Blang Padang. Luar biasa, rasanya hampir tak percaya. Alam telah menyembuhkan diri lebih dari yang saya kira. Rumput tebal di lapangan ini bagaikan kosmetik supercanggih, yang sanggup membuat kinclong pipi kasar berjerawat. Hamparan rumput hijau ini telah memendam dalam sejuta kisah tentang ribuan mayat yang terserak di sini.
Kemarin pagi, Blang Padang lebih berseri-seri. Sepuluh ribuan orang berkumpul di sini untuk menunaikan salat Idul Adha. Semangat dan gairah hidup memenuhi lapangan. “Ini jauh lebih ramai dibanding sebelum tsunami,” kata Wati, salah seorang pengunjung. Wajarlah, Wati menyambung, Aceh sebelum tsunami masih diselimuti ketegangan konflik, sehingga masyarakat tak bebas bergerak. “Dulu orang-orang malas salat jauh-jauh, khawatir ada apa-apa.”
Kini zaman berganti. Di Blang Padang, seperti kata Wati, “Kami memulai lembaran baru.”
Sumber: Koran Tempo, 21 Desember 2007

















Wartawan Tempo sejak 1998. Menjelajah berbagai desk, antara lain ekonomi, nasional, kesehatan, sains, gaya hidup, dan investigasi. Sejak Januari 2009 ditugasi menjadi Direktur Eksekutif Institut Tempo, sebuah lembaga yang dicita-citakan menjadi pusat pengembangan jurnalistik di Indonesia. Lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1996. Setelah lulus kuliah, bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi (1996) sebagai staf riset dan kemudian menjadi reporter di majalah Panji Masyarakat (1997).