Mereka yang Hampir Terlupakan
Kemarin saya berjumpa dengan Mustafa di Desa Lam Klat, Tungkob, Aceh Besar. Bersama puluhan ribu korban konflik, dia termasuk dalam barisan yang hampir terlupakan di Aceh. Kisah mereka tersembunyi di antara gegap-gempita pembangunan jembatan, jalan raya, dan rumah untuk korban tsunami.
Rumah Mustafa tak sampai 20 meter persegi. Berlantai semen, berdinding papan. “Mari masuk, Kak. Cuma begini adanya,” kata lelaki 28 tahun ini.
Kisah pedagang kaki lima ini cukup dramatis. Awal 2002 dia ditangkap oleh tentara. “Saya ditembak waktu jalan kaki,” katanya, “Entah apa salah saya.” Tiga bulan dia dipenjara, tanpa proses pemeriksaan apa pun. Lalu, “Saya dibebaskan. Cuma salah tangkap, kata tentara. Saya dikira anggota GAM (Gerakan Aceh Merdeka),” katanya.
Persoalannya, peluru telanjur bersarang di tulang pinggul Mustafa. Tak ada biaya untuk berobat ke rumah sakit. Penghasilannya pun hanya Rp 20-30 ribu per hari. “Saya cuma bisa beli obat pereda nyeri,” katanya. Sering kali dia tak bisa bekerja lantaran sekujur kakinya kebas dan susah digerakkan.
Read the rest of this entry →





Wartawan Tempo sejak 1998. Menjelajah berbagai desk, antara lain ekonomi, nasional, kesehatan, sains, gaya hidup, dan investigasi. Sejak Januari 2009 ditugasi menjadi Direktur Eksekutif Institut Tempo, sebuah lembaga yang dicita-citakan menjadi pusat pengembangan jurnalistik di Indonesia. Lulusan Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1996. Setelah lulus kuliah, bergabung dengan Majalah Warta Ekonomi (1996) sebagai staf riset dan kemudian menjadi reporter di majalah Panji Masyarakat (1997).